Menaja Arketipe

IMG_20190725_112932

Seniman berpikir, memproses karya, mengolah material hingga menghasilkan karya. Menjadikan rancangan sebagai suatu pola, baik dari dasar materi karya atau dasar konsepnya sebagai proses menaja dalam pikiran akan membentuk rancangan dasar dalam karya selanjutnya. Waktu yang menentukan juga proses berpikir akan menapak puncaknya hingga sang seniman menemukan konsep tunggalnya.

Waktu yang berhubungan dengan sejarah pembentukan dasar arketipe ini menjadi metode berpikir. Jika dirunut dari zaman pemikiran maka akan ditemukan pengertian arketipe dari zaman skolatisisme hingga zaman perkembangan pemikiran filsafat yang bertumpu pada psikologi. Bahkan pemikiran filsafat secara mendasar yang diyakini oleh gaya berpikir John Locke.

Sedangkan pada zaman perkembangan pemikiran filsafat psikologi, melalui tokohnya Carl Gustav Jung. Yang mendefinisikan arketipe secara mendasar dan verbal hingga jelas ditangkap dalam suatu pengertian, menjadikan jalan pemikirannya sehingga dapat dijadikan pijakan. Konsep arketipe Jung dapat bergulir dimana-mana mendasari berbagai literasi untuk dijadikan sikap dalam berkarya.

Tidak seperti pendahulunya yang memberi dasar arketipe hanya sebagai pijakan abstraksi, terutama Plato, menggagas arketipe sebagai dasar pijakan yang masih bisa berkembang sesuai dengan hasrat pengguna, sungguh membingungkan, tetapi sebagai dasar berpikir. Saat itu pemikiran Plato sangat berguna sekali, walaupun butuh penyempurnaan dan pengembangan selanjutnya.

Rancangan Sohieb Toyaroja dalam karya lukisnya menaja secara mendalam, walaupun unsur pemikiran terlihat apa adanya dalam karya, tetapi melibatkan dasar-dasar typos dalam mengeluarkan karya di atas kanvasnya. Sohieb seperti menggugah kita untuk melihat kedalaman proses suatu pembuatan figure dengan pola suatu berpikir, hingga membentuk rancangan yang mudah ditelusuri.

Sasaran konseptual yang dilukiskannya dapat mengambil gagasan Plato yang membuat abstraksi obyek berkembang, ketika melihat lukisan. Sohieb, begitu panggilan akrabnya, membuat subyektivitas karya membentuk perspektif yang sangat mendalam. Menggambarkan proses subyek dalam membuat benda-benda yang akan menjadi arketipe. Tidak filosofis pada awalnya, jika melihat sepintas karya tersebut, tetapi kajian terhadap proses terbentuknya karya mempunyai jalan berpikir yang panjang.

Hasilnya dapat menjadi bahan kajian yang tidak lepas dari sejarah typos, figure atau pola, itu sendiri yang membentuk awal dari karya-karya yang dihasilkan. Walaupun Sohieb tidak bersekutu dengan pengertian Jung, pada karyanya. Karena banyak dijumpai gambar atau foto mirip dengan yang dihasilkan Sohieb. Tetapi jiwa karya lukis yang dihasilkan Sohieb merupakan bentuk pengertian puncak dari rancangan yang dihasilkan dirinya ketika bersinggungan dengan proses membentuk arketipe itu sendiri. Proses kreatif yang ditangkap secara mendasar.

***

Melalui konsep arketipe berdasarkan sejarah pengertian tersebut. Sohieb Toyaroja berusaha memberi penjelasan visual dengan lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam konsep pameran kali ini. Gambaran secara verbal memang terlihat dengan memberi telaah secara jelas. Bahwa obyek lukisan memberi gambaran seorang berproses membuat arketipe, baik membatik, membuat tempat masak yang berasal dari tanah liat atau membuat keris.

Semua yang dilukiskannya proses membuat arketipe. Tetapi secara konseptual Sohieb tidak membuat benda menjadi nyata, termasuk hasilnya seperti batik atau keris. Apa yang diungkapkannya adalah proses pembuatan arketipe. Benda hasil arketipe mengiringi sebagai penampakan proses atau hasil yang dibuat oleh subyek. Hal ini menjadikan lukisan Sohieb nampak konseptual.

Tetapi mempunyai dasar yang mudah diurai, diulas atau dikaji bahwa karya lukisnya berhasrat menampakan suatu proses pembuatan arketipe. Sohieb membuat pengertian dalam bentuk visual bahwa yang dilakukan ini mempunyai jalan panjang sesuai perkembangan pemikiran sejarah pengertian arketipe itu sendiri. Bahwa benda hasil seni mempunyai rerancangan yang mengiringi waktu, atau melibatkan sejarah dari subyek yang ahli dalam mengulas secara filosofis dari zamannya.

Sohieb telah membuat konsep karya, proses arketipe ini menjadi puncak dari konsep lukisan. Sehingga dapat dilihat bahwa perlu catatan-catatan dari waktu ke waktu tentang suatu proses pembentukan arketipe, yang mungkin mewakili zamannya. Mulai dari Plato, John Locke hingga Carl Gustav Jung mungkin. Karya yang ditampilkan ini merupakan muara dari jalan panjang Sohieb yang mengembara dengan pemikirannya, jika didasarkan pada pengertian Jung, hasil khayalan Sohieb.

Frigidanto Agung, Penulis Seni Rupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shop By Category

WhatsApp chat