Majapahit In Historical Geography

IMG-20190522-WA0011

Semua karya yang ditampilkan pada pameran ini dibuat tanpa panduan satu objek pun, para seniman yang tampil menerbangkan roh dan imajinasi mereka untuk menterjemahkan tema pameran bukan hanya sebagai visual art, lebih dari itu mereka menampilkan seni komunikasi sejarah dengan kreatifitas spontannya. Para seniman ini ditantang untuk melukiskan, menggambarkan ingatan kolektif mereka tentang mitos dan legenda Majapahit, mereka hendak menghadirkan narasi imajinasi tentang penyatuan Nusantara bukan dengan senjata dan kekejaman, tetapi dengan cinta dan romantisme.

Keterhubungan antara keragaman karya-karya yang ditampilkan pada pameran ini yang membawa tema penaklukan militer majapahit, legenda atau mitos, di kawasan proto Indonesia yang sangat luas memberikan kita kesempatan untuk memberikan apresiasi tentang karya seni di ruang geografi sejarah (peta 1).

Faturrahman Ardiansyah dalam “Merajut Nusantara” (The Fabrics Of Nusantara) dan Fitra Aditia dalam “Diantara Kisah Sang Hyang Baruna” (The Tales Of Sang Hyang Baruna) mengangkat wilayah Selat Malaka pada abad ke-13 s.d. ke- 15 sebagai wilayah yang tak pernah usai dari berbagai kepentingan antara bangsa untuk menguasai jalur perdagangan terpenting di Asia Tenggara.

Merajut Nusantara adalah sebuah jendela penting untuk melihat secara lebih cermat objektifitas sejarah terhadap mitos bahwa Majapahit pernah menguasai Selat Malaka dan lepas pantai Sumatera Timur. Karya ini menggambarkan bahwa penyatuan Nusantara lebih diilhami oleh kerjasama yang setara antara berbagai kerajaan di Nusantara, dan pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Timur seperti Tuban, Gresik, dan Jepara adalah tempat dimana para pedagang dari seantero Nusantara dan dunia merajut kemakmuran bersama.

Sementara kisah Sang Hyang membawa kita kepada ide romantisme tentang sinkronisme seni rupa Jawa dan Tiongkok dalam bentuk Naga Laut yang ikonik yang memberikan gambaran sangat penting bahwa penyatuan Nusantara lebih di dominisi oleh diplomasi dan perkawinan antara para Raja Nusantara ketimbang sebuah opresi militer yang brutal.

Sanga Hyang Baruna itu sendiri pada dasarnya adalah sejenis tombak bermata dua legendaris di era Singasari pada abad ke-12 yang kemudian menerus ke era Majapahit pada abad ke-13 masehi, di luar tombak yang terbuat dari kuningan dan baja, Sang Hyang Baruna adalah karya seni romantis dari pandai besi yang legendaris di era Majapahit.

Saepul Bahri muncul dalam karya di Kala itu, dengan media cutting wood panel. Karya seni ini menggambarkan memory kolektif sang artis, tentang suatu masa di wilayah sunda kecil, lesser sunda island, Nusa Tenggara Barat dan etnologi Sasak di masa-masa abad ke-13 s.d. ke-15, adanya pengaruh Hindu dari Jawa, komoditi perdagangan berharga nusantara yaitu rempah, garam, pinang, juga lalu lintas opium, semua yang mempengaruhi  dispersi Austronesia (penyebaran penduduk penutur bahasa Austronesia), dengan kerangka ini sang artis ingin memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat di era itu di Sunda Kecil.

Sohieb Toyaroja kemudian bertransenden di dunia metafisik untuk menampilkan sosok mistis Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dan siluet figur Sabda Palon yang menggambarkan polemik, intrik kerumitan Majapahit di akhir era kekuasaannya di Jawa Timur pada abjad ke-17, kehadiran sosok Semar Wilwatikta pada karya ini memberikan kita semua pesan kebijaksanaan penting dari masa lalu bahwa Nusantara adalah tempat hebat dimana akulturasi dan amalgamasi budaya bertumbuh demikian suburnya, dan di akhir eranya Majapahit memberikan nasehat yang luar biasa tentang cita-cita tentang perdamaian abadi diantara para bangsa.

Syarief Hidayatulah muncul dengan karya abstrak mengambarkan kesukaran kita untuk merekonstruksi secara terang dan konsiste  tentang sejarah, kebudayaan, dan peradaban Majapahit dalam konteks persatuan dan kesatuan Indonesia moderen dalam keberagaman budayanya, karyanya Against Psychoneruotik menjelaskan kesukaran-kesukaran dan kegelisahannya akan rekonstruksi sejarah besar Majapahit dan berbagai memori kolektif tentangnya.

Teguh Hadiyanto, menampilkan salah satu tokoh sentral  Majapahit yaitu Gajah Mada dalam sosok surealisnya, yaitu Gajah Mada Re-think. Dalam imajinasinya. Ketimbang menampilkan sosok Gajah Mada sebagai aristrokat militer seperti Napoleon Bonaparte, ia memilih menampilkan Gajah Mada sebagai sosok dengan visi, misi, dan konsepsi yang disebut sebagai Sumpah Amukti Palapa, sebagai awal dari semua kerja mulia untuk mempersatukan berbagai macam kebudayaan dan peradaban di Nusantara dalam pemikiran Gajah Mada yang mendalam, suatu sosokmetafisik Gajah Mada yang berbeda dari sosok formalnya.

Dari karya ini kita juga dapat bercermin dari budaya adiluhur bangsa Indonesia, tentang bagaimana sejarah yang pernah terjadi dan dapat berulang lagi di masa ini, juga tentang berbagai macam potensi konflik yang berasal dari perdebatan panjang dan melelahkan tentang hegemoni keagamaan yang tak kunjung usai, dan bagaimana orientalisme selalu ditanggapi secara negative, sementara para pendahulu bangsa Indonesia tidak pernah berpikir demikian.

Rengga Satria dalam serie fotografi yang minimalis akhirnya menggambarkan kehadiran Majapahit dalam memory kolektif di berbagai kota di Jawa Timur, sebagai gambaran “chronicle”, gambaran masa depan Majapahit sebagai teks sejarah yang tidak mudah dicerna begitu saja oleh generasi milenial hari ini.

Ada rentetan-rentetan waktu yang krusial dalam transisi pengaruh Hindu Buddha pada kerajaan-kerajaan di Nusantaa menuju pengaruh Islam yang disebarkan oleh para Wali. Transisi ini juga kemudian dipercaya sebagai tanda berakhirnya kejayaan kerajaan-kerajaan tersebut, salah satunya Majapahit. Karya ini menjadi sebuah ‘monograf’ dari fragmen-fragmen kronik yang secara abstraksi menggambarkan bagaimana transisi itu berlangsung.

Ito Joyoatmojo hadir dengan kegelisahan hebatnya tentang persatuan kesatuan Indonesia modern yang kerap terganggu oleh potensi berbagai macam konflik, baik vertikal dan horisontal diantara bangsa sendiri. Berkaca dari sejarah Majapahit dan pembelajarannya, perang saudara karena resahnya hegemoni kekuasaan adalah hal yang lebih menghancurkan Majapahit ketimbang faktor lainnya. Pembelajaran penting dan untuk menjadi perenungan semua orang bijak, bahwa musuh yang terbesar bukanlah perang, tapi kerakusan manusia akan kekuasaan.

Kata militer selalu mengundang pendekatan formal pada sejarah umat manusia, sementara cinta dan romantika, seni dan ilmu pengetahuan memberikan aspek estetika dalam kebudayaan dab peradaban, dan ketika sesuatu menjadi formal maka keindahan budaya itu tiba-tiba menghilang, tetapi di suatu waktu Napoleon Bonaparte berkata pada kita, semua adil dalam cinta dan perang, dan tiba-tiba sebuah keindahan yang absurd lahir, keindahan pada mitos dan legenda penaklukan militer.

Hendra Ishanders
Kurator Pameran

Sumber: Katalog Pameran Bersama Ancient Indonesian Military Conquests: Myths or Legend

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shop By Category

WhatsApp chat